Oleh: Fadzrul Afyan
Menjadi seorang pemimpin adalah
kodrat setiap umat manusia. Allah telah mengatakannya dalam Al-Qur’an Surah
Al-Baqarah ayat 30. Memimpin diri, keluarga, dan yang lainnya. Tetapi tentu
menjadi seorang aktivis pasti akan
mendapat kesempatan memimpin suatu kepengurusan, kepanitian, dsb.
Khususnya saya yang aktif di Organisasi Pelajar Islam Indonesia. Tidak semudah
yang dibayangkan, menjadi seorang aktivis yang berjuang antara sekolah dan
amanah di Organisasi yang berjuang untuk umat. Membutuhkan kesabaran dalam
menjalani jam terbang yang cukup lama.
15-21 Desember 2013, tepatnya di Singaraja, Bali. Saya untuk pertama kalinya menjadi Ketua Panitia dalam acara yang dapat dikategorikan besar. Memimpin 15 personil panitia untuk mengurus aktifitas pen-Trainingan selama kurang lebih seminggu. Mulai dari memberi makan, menjaga kebersihan, menyiapkan tempat, dan kebutuhan training lainnya.
15-21 Desember 2013, tepatnya di Singaraja, Bali. Saya untuk pertama kalinya menjadi Ketua Panitia dalam acara yang dapat dikategorikan besar. Memimpin 15 personil panitia untuk mengurus aktifitas pen-Trainingan selama kurang lebih seminggu. Mulai dari memberi makan, menjaga kebersihan, menyiapkan tempat, dan kebutuhan training lainnya.
Dimulai dari hari pertama,
ketika pembukaan dihadiri oleh banyak hadirin mulai dari KB PII hingga Kader
PII yang datang dari tiap penjuru Bali. Keadaan yang bisa dikatakan untuk
sekian lama ini pertama kalinya pembukaan training dihadiri oleh banyak
undangan. Saya yang selaku ketua panitia yang akan melaporkan hal-hal yang
harus dilaporkan dalam acara tersebut. Alhamdulillah, semua berjalan lancar
tanpa hambatan.
Selanjutnya, peserta training
melakukan interview dengan instruktur. Selaginya peserta interview, kami dari
panitia melakukan rapat pertama membahas apa saja yang harus disiapkan diawal
progres kepanitian. Karna Panitia Pra-Training sudah bubar, sekarang perlu
pembentukan Panitia Pas-Training. Seusai rapat kami mulai bertugas sesuai
dengan tugas masing mulai dari kebersihan, keamanan, dsb.
Hari pertama telah terlewati,
memasuki hari kedua mulai ada rasa lelah yang disebabkan ketidakbiasaan kami
terhadap kondisi yang ada. Mulai ada personil panitia yang berpaling dari tugas
dan melakukan hal-hal yang tidak mesti dilakukan panitia. Malam tiba, ketika
peserta tidur, kami panitia melakukan Rapat Evaluasi untuk menilai kinerja
selama kegiatan sehari itu. Begitu banyak evaluasi yang dilontarkan setiap
personil, mulai dari ketidak sukaan tutur kata hingga tingkah laku yang
dilakukan personil lainnya. Tapi itu menjadi kelegaan sendiri bagi kami, karna
tak ada dendam lagi usai rapat itu.
Lewat hari kedua berlanjut ke
hari ketiga, lelah dan kantuk mulai menyerang kami, saya yang menjadi ketua
kala itu harus terus menyemangati agar kelalaian tidak terjadi dalam tim kami.
Berat memang, tapi bukan berarti tidak dilakukan. Aktifitas yag hingga malam
hari, bangun pagi untuk tahajud, masak, dan belum lagi Pelatihan Materi dari
instruktur khusus untuk panitia tentu menjadi tantangan tersendiri. Karna di
Training ini tidak hanya peserta yang training, tapi semua yang terlibat
didalamnya mulai dari instruktu, panitia, dan peserrta.
Berjalannya waktu, tidak ada
hambatan, baik dari sistem, teknis, maupun dana. Tapi entah apa yang
direncanakan Allah, ditengah training tepatnya rabu pagi, salah satu staf
sekolah yang tempatnya kami gunakan untuk training mengabarkan untuk segera
menyelesaikan training sebelum jum’at siang dikarnakan satu dan lain hal. Tentu
itu hal yang sangat mengejutkan kami, sedang jadwal training yang selesai hari
sabtu harus diselesaikan sehari sebelumnya. Mustahil untuk memadatkan jadwal.
Akhirnya, kami memutuskan untuk
pindah tempat, saya langsung koordinasi dengan Koordinator Tim dan kawan-kawan
panitia. Untuk segera pindah, akhirnya rabu malam itu juga kami langsung
mencari tempat dan transportasi. Alhamdulillah kami dapat menemukan tempat dan
transportasi saat itu juga. Malam itu juga, kami langsung menyiapkan ruangan di
lokasi yang akan kami tempati dengan mengirim setidaknya kurang lebih setengah
personil kepanitiaan dikirim kesana. Keesokan harinya, tepatnya Kamis, 19 Desember
2013 kami bangun pukul 3 pagi untuk sahur dan tahajud, lalu ba’da shubuh kami
langsung pindah lokasi training pagi itu juga.
Alhamdulillah, tanpa hambatan
kami dimudahkan oleh Allah untuk pindah dalam waktu kurang lebih 2 jam dari
lokasi sebelumnya yang berjarak kurang lebih 10 Km. Training kembai
dilanjutkan, seluruh tim kembali bertugas ke rahnya masing-masing. Saya
langsung kembali mengkoordinir dan menyesuaikan keadaan, dikarnakan kondisi
tempat yang berbeda dari lokasi sebelumnya.
Hingga 2 hari terakhir training,
mulai kader dari tiap daerah kembali hadir untuk mengikuti acara penutupan di
malam harinya. Sampai tiba waktu penutupan tepatnya malam sabtu, peserta yang
mengambil job untuk MC dan seluruh perangkat penutupan. Panitia hanya
menyiapkan tempat dan sound system. Penutupan tiba, kembali diramaikan oleh
banyak hadirin undangan. Dan acara yang paling dinanti adalah bagian PENSI
(Pentas dan Seni) yang ditujukan oleh peserta dan panitia. Ada yang drama komedi,
bernyanyi, dan spontanitas lainnya. Suka cita memenuhi acara tersebut,
seolah-olah lelah selama kurang lebih 6 hari itu hilang begitu saja.
Usai penutupan, semua beristirahat di ruangnya masing-masing. Dan dipagi harinya seluruhnya bersiap untuk outbond, tetapi dikarnakan cuaca hujan dibulan desember yang cukup mengkhawatirkan. Jadi outbond dibatalkan, dan semua menyiapkan persiapan untuk pulang. Dan tepatnya pukul 11 siang, semua warga training akhirnya kembali ke daerahnya masing-masing.
Dalam training ini begitu banyak
yang saya dan khususnya kami dapat, memisahka antara pelajaran dan pekerjaan,
disini kami belajar begitu penting disiplin waktu, menghargai satu dengan yang
lainnya. Semoga training ini merupakan awal dari perubahan, yang tak hanya
ucapan melainkan komitmen yang kuat untuk kedepannya.

